Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Nyepi, Ramadan bersamaan: Momen toleransi beragama di Bali

17.34.00

 Terlepas dari perbedaannya, keduanya memiliki sejumlah nilai selaras: perdamaian, harmoni, dan pengendalian diri.

Umat Hindu mengikuti upacara ritual "Tawur Agung Kesanga," atau Upacara Penyucian Agung, yang diadakan untuk menyambut Hari Raya Nyepi, di Candi Prambanan di Yogyakarta, 21 Maret 2023


Dua agama di Indonesia merayakan hari besarnya bersamaan; ketika umat Hindu pada Rabu merayakan Nyepi, umat Islam melakukan salat Tarawih pertama untuk mengawali ibadah puasa Ramadan esok harinya. 

Bali, pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, merayakan Tahun Baru Saka 1945 yang tahun ini jatuh pada Rabu (22/3), dengan menghentikan segala aktivitas, termasuk bekerja, bepergian, yang berarti juga tidak menggunakan kendaraan, tidak menyalakan listrik, selama 24 jam hingga Kamis pagi.  

Jatuhnya perayaan besar keagamaan pada hari yang sama ini jarang terjadi mengingat bulan suci Ramadan tanggalnya bergeser setiap tahun karena mengikuti kalender Islam, demikian juga Nyepi yang umumnya jatuh pada bulan Maret namun pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya karena mengikuti kalender Saka Hindu.

Muslim, yang merupakan mayoritas penduduk di Indonesia tetapi minoritas di Bali, menjalankan salat Tarawih pada Rabu malam ini hanya di rumah atau dengan berjalan kaki menuju masjid terdekat untuk menghormati umat Hindu yang sedang menjalankan Nyepi.

Kaum Muslimah menerima makanan dan minuman untuk berbuka puasa pada hari pertama Ramadan di sebuah masjid di Denpasar, Bali, 3 April 2022. [Firdia Lisnawati/AP Foto]
Kaum Muslimah menerima makanan dan minuman untuk berbuka puasa pada hari pertama Ramadan di sebuah masjid di Denpasar, Bali, 3 April 2022. [Firdia Lisnawati/AP Foto]

Pemerintah Daerah Bali juga mengimbau warga Muslim untuk melakukan salat Tarawih pada hari itu tanpa pengeras suara atau lampu secara terang benderang.  

Hal tersebut juga digemakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali Mahrusun Hadiono.

Kami mengajak masyarakat untuk menjaga persaudaraan dan saling menghormati,” kata Mahrusun Hadiono 

Gubernur Bali I Wayan Koster menandatangani kesepakatan dengan sejumlah pimpinan lembaga keagamaan lokal bahwa usaha penyedia jasa hiburan dan akomodasi dilarang mempromosikan usahanya dengan “menjual” Nyepi.

Hari Raya Nyepi merupakan salah satu perayaan keagamaan terpenting di Bali - pulau dengan mayoritas penduduk Hindu, yang menjadi tujuan wisata utama Indonesia.

Beberapa hari sebelum hari Nyepi, umat Hindu melakukan ritual Melasti, yaitu upacara pembersihan diri dan semesta ditandai dengan penyucian perlengkapan upacara atau barang-barang keramat di sumber mata air, seperti laut atau sungai.

Tahapan berikutnya adalah Pengerupukan yang memiliki makna mengusir roh-roh jahat yang dikenal dengan istilah bhuta kala, dari lingkungan terkecil yaitu rumah, hingga ke wilayah yang lebih besar seperti di lingkup desa, yang ditandai dengan pengarakan “ogoh-ogoh”. Patung-patung dari kayu dan kertas berukuran besar yang menggambarkan kekuatan jahat ini setelah diarak akan dibakar yang menandakan dimusnahkannya hal-hal negatif dalam diri dan lingkungan guna menyambut tahun yang baru.

Malam yang penuh keriuhan sehari sebelum Nyepi itu akan sangat berbeda dengan keadaan keesokan harinya di mana Bali akan terlihat seperti pulau mati selama 24 jam, tanpa listrik, jalanan sepi, bahkan bandara internasional Bali tidak beroperasi pada hari itu.

Satu-satunya orang yang diperbolehkan berada di jalan adalah pecalang, petugas keamanan adat, untuk memastikan bahwa setiap orang mematuhi aturan Nyepi. Instansi darurat seperti rumah sakit tetap beroperasi, namun dalam skala lebih terbatas.

Saat Nyepi umat Hindu menjalankan empat larangan atau Catur Brata Penyepian sebagai alat pengendalian diri yaitu amati geni - tidak menyalakan api/listrik, simbul meredam kemarahan; amati karya - tidak bekerja; amati lelungaan - tidak bepergian, dan amati lelanguan - tidak melakukan hal yang bersifat hiburan.

Ni Putu Suaryanti, warga Denpasar, mengatakan Nyepi adalah hari istimewa, karena bisa lebih memberikan waktu untuk diri sendiri, saat di mana umat Hindu memberikan waktu pada semesta untuk membersihkan keadaan bumi itu sendiri.

“Menurut saya Nyepi adalah rangkaian upacara yang sangat istimewa karena bisa memberi ruang lebih pada hati saya untuk tenang dan damai,” kata Putu saat ditemui sehari sebelum Nyepi.

Putu telah menyiapkan persembahan untuk para dewa sebelum Nyepi dan berdoa di pura bersama keluarganya di pagi hari. Ia menunggu waktu untuk melakukan pecaruan, ritual untuk menyeimbangkan alam di sekitar rumahnya.

“Kami menyalakan api untuk menakut-nakuti bhuta kala agar tidak mengganggu kami dan Nyepi besok lancar,” ujarnya.

Nyepi berasal dari tradisi India kuno yang memperingati masa damai setelah konflik panjang di antara berbagai suku.

“Nyepi adalah waktu untuk membersihkan diri dari segala kekotoran,” kata I Wayan Suwena, dosen kajian budaya di Universitas Udayana Bali yang pernah meneliti Nyepi. “Ini juga merupakan waktu untuk menghargai alam dan sumber dayanya.”

Warga muslim Hanafi di Singaraja, Bali utara, merasakan toleransi antar warga sejak prosesi Pangerupukan dan merasa senang untuk mengikuti Tarawih dalam suasana yang berbeda tahun ini.

"Kami akan didampingi pecalang. Hanya ibu-ibu saja yang agak kerepotan mempersiapkan sahur buat besok, karena pasar tidak buka," guraunya.

Ramadan merupakan masa pembaharuan spiritual bagi umat Islam, yang meyakini bahwa Allah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad selama bulan suci tersebut.

Terlepas dari perbedaan keduanya, baik Nyepi dan Ramadan memiliki sejumlah nilai yang sama seperti perdamaian, harmoni, dan pengendalian diri, kata Suwena. “Keduanya merupakan ekspresi spiritualitas manusia yang dapat memperkaya hidup kita,” ujarnya.


diambil dari catatan Luh De Suriyani untuk tambahan pembelajaran di SMAN 1 Panggang

2023.03.22
Denpasar
sumber
https://www.benarnews.org/indonesian/berita/nyepi-ramadan-bersamaan-toleransi-beragama-di-bali-03222023121956.html










PERKEMBANGAN PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM DI CHINA

PERKEMBANGAN PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM DI CHINA

14.42.00
 islamdichina1 (FILEminimizer)
 islamdichina1 (FILEminimizer)
  1. Pendahuluan
China adalah sebuah negeri yang sangat unik, memiliki kebudayaan dan peradaban tertua di dunia. Di balik kemegahan dan keajaiban Great Wall (Tembok Rakasasa), kekaisaran China menyimpan jutaan rahasia tentang sejarah dan peradaban Islam, mulai dari Dinasti Tang, Dinasti Sung, Dinasti Yuan, Dinasti Ming hingga Dinasti Manchu. Pada mulanya Islam di China dibawa melalui dua jalur oleh Para saudagar Arab dan Persia, yakni jalur darat dan jalur laut. Jalur penghubung dagang utama ketiga wilayah tersebut belakangan lebih terkenal dengan “Silk Road” (Jalur Sutra) di wilayah barat China.
Berdasarkan informasi beberapa sumber, salah seorang pemuka muslim yang terkenal dalam proses penyebaran Islam di China yaitu Sa’ad bin Abi Waqas melalui “Jalur Sutra” lebih kurang pada abad keempat dan kelima Hijriah. Sa’ad memperoleh penghormatan yang sangat spesial terutama dari Yung Wei, yang ketika itu menjabat sebagai Kaisar pada Dinasti Tang. Sejak saat itu, Islam mulai tumbuh di wilayah tersebut. Dinasti demi dinasti pun terus berganti, sampai akhirnya China berubah menjadi sebuah Republik dengan rezim komunis berkuasa di wilayah itu, yang kemudian terkenal dengan sebutan RRC (Republik Rakyat China). Kendatipun begitu, semangat yang dimiliki oleh minoritas muslim di kawasan itu tak pernah pudar sampai sekarang. Islam, yang diperkenalkan oleh para saudagar yang taat dan cerdas (Arab dan Persia) berabad-abad yang silam, benar-benar telah mengurat-akar dan berpengaruh besar dalam berbagai sendi kehidupan muslim di negeri “Tirai Bambu” tersebut, tidak hanya dalam pemikiran, namun juga dalam sistem nilai dan norma bagi masyarakat muslim di China hari ini. Disadari ataupun tidak, rakyat China telah banyak sekali mengadopsi berbagai ilmu pengetahuan Islam dari masa ke masa.
Adapun sebelum dakwah Islam sampai ke negeri China, yaitu pada masa klasik, negeri ini merupakan negara yang maju dan berbudaya, apalagi ketika dinasti tang berkuasa. Maka tak heran kalau ada sebuah hadits mengatakan, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.” Adapun kepercayaan atau agama yang dianut sebelum Islam datang ke China antara lain : (1) Kong Hu Cu atau Konfusiasisme (mulai dikenal 531 SM), (2) Agama Tao atau Taoisme yang dibawa oleh Lao Tzu (640 SM)[1], dan yang terakhir berkembang adalah agama Budha yang mulai berkembang secara merata pada masa dinasti Sui dan Tang.
islamdichina2 (FILEminimizer)
  1. Masuknya Islam ke China
Agama Islam telah hadir di China lebih dari 1400 tahun yang lampau. Dalam hal ini terdapat beberapa teori mengenai kedatangan Islam di China. Teori yang pertama yang tertulis dalam kitab sejarah China, yang berjudul Chiu T’hang Shu diceritakan Cina pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih (Arab). Orang-orang Ta Shih ini, merupakan duta dari Tan mi mo ni’ (Amirul Mukminin), yang ke-3 (Khalifah Utsman bin Affan).  Pada masa ini Khalifah Utsman bin Affan menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Illahi ke daratan China (Konon, Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M, dan kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars). Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Sejak saat itu Islam dikenal dan mulai tersebar di berbagai wilayah di Cina. Tidak hanya itu, khalifah-khalifah Islam lainnya juga sering mengirim delegasi ke Cina untuk mengajarkan Agama Islam kepada orang-orang Islam Cina seperti halnya yang dilakukan Harun Al Rosyid (A-Lun), Abu Abbas (Abo-Loba)  dan Abu Dja’far (A-pu-cha-fo) dalam riwayat Dinasti Tang. Buya HAMKA didalam bukunya Sejarah Umat Islam menulis, pada tahun 674M-675M, Cina kedatangan salah seorang sahabat Rasulullah, Muawiyah bin Abu Sufyan (Dinasti Umayyah), bahkan disebutkan setelah kunjungan ke negeri Cina, Muawiyah melakukan observasi di tanah Jawa, yaitu dengan mendatangi kerajaan Kalingga. Berdasarkan catatan, diperoleh informasi, pada masa Dinasti Umayyah ada 17 duta muslim datang ke China, sementara di masa Dinasti Abbasiyah dikirim sebanyak 18 duta.[2]
Teori yang kedua mengatakan Islam masuk ke China  melalui Jalur perkawinan, di mana kalau diperhatikan wajah-wajah mereka sangat mirip dengan wajah orang Arab, Parsi, Turki, Uzbekistan, Afganistan dan ada yang kelihatan seperti orang Pakistan. Perkawinan di antara bangsa tersebut telah membantu mempercepat perkembangan dan penerimaan Islam di kalangan masyarakat China.[3]
Teori ketiga adalah melaui jalur perdangangan Lada. Jalur ini dipergunakan oleh saudagar Arab yang melakukan perdagangan melalui laut. Salah satu kesan akan kedatangan para pedagang tersebut adalah berdirinya mesjid-mesjid lama di Guangzhou. Begitu pula dengan peninggalan batu nisan yang telah berukir dengan kaligrafi Arab yang indah yang bisa didapatkan di lokasi itu.[4]
  1. Perkembangan Islam dalam masa lima dinasti
Perlu diketahui bahwa mazhab yang dianut oleh mayoritas umat Islam di China adalah Hanafi.[5] Dan gambaran perkembangan peradaban umat Islam pada masa-masa dinasti dapat dikatakan cukup variatif, berikut akan dibahas perkembangan Islam dalam 5 dinasti.
  1. Dinasti Tang (618-907 M) masa keemasan
Dinasti Tang di Tiongkok dibagun oleh Li Yuan, yang dipanggil Kaisar Tai Tsu (618-626 M). Pada masa Kaisar inilah Nabi besar Muhammad SAW. (570-632 M) mengucapkan sabda yang terkenal itu, yang berbunyi: Uthlubul ‘ilma wa-lau bilshini” (Tuntutlah ilmu walau ke negeri China).[6] Adapun perkembangan dan kondisi umat Islam di China pada masa ini, dapat dikatakan hanya sebatas hubungan diplomatik dan perdagangan, karena fase ini merupakan fase awal masuknya Islam ke daratan China.  Selama masa dinasti Tang, orang Islam hidup makmur dan dihormati, bahkan kekaisaranpun memberikan perlakuan hak istimewa terhadap para pedagang muslim.[7] Pada dinasti ini ada peninggalan sebuah masjid dengan menara cemerlang di Kanton, menandakan bahwa orang muslim di China pada waktu itu diberi kebebasan hidup dan beribadah.[8]
  1. Dinasti Sung (960 – 1279 M)
Hubungan diplomatik antara kekhalifahan Islam dan kaisar China pada masa ini terus digalakkan. Selain itu pada masa ini umat Islam masuk dalam pemerintahan kekaisaran China. Tercatat Muhammad Kamaluddin pernah diangkat sebagai panglima tentara dan menulis buku mengenai ilmu menggambar.[9]
  1. Dinasti Yuan (1279 – 1368 M) bangsa Mongol
Setelah hancurnya dinasti Sung, negeri ini dikuasai oleh bangsa Mongol dengan mendirikan dinasti Yuan. Pada masa inilah migrasi umat Islam ke wilayah China terjadi dengan pesat bahkan sampai ke pedalaman China, yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya. Banyak orang Islam menduduki posisi politik pemerintahan, sampai pada posisi yang sangat penting di dinasti tersebut.[10] Dalam bidang astronomi, seorang tokoh muslim Djamal Addin membangun observatorium yang berpusat di Peking. Dalam bidang militer Ismail dan Alauddin berhasil menciptakan meriam untuk peperangan yang disebut dengan Hui-Hui Canon. Pada masa inilah, dalam lawatannya Ibnu Batutah memuji negeri China sebagai negeri yang luas dan makmur, “China adalah negeri yang paling aman dan paling sesuai di dunia bagi para musafir.”[11]
  1. Dinasti Ming (1368 – 1644) masa keemasan
Beberapa kemajuan peradaban umat Islam pada masa dinasti Ming adalah:
  1. Akulturasi dan Asimilasi. Proses panjang akulturasi dua kebudayaan terlihat mewarnai dinasti ini, nampak dari berkembangnya porselen dengan hiasan ukiran Arab, makam, kaligrafi China dan sebagainya. Dalam hal asimilasi, contohnya proses dimana setelah orang Islam menikah dengan wanita Han berganti nama, misalnya Khalid menjadi Kha, Abdullah menjadi Lah, Daud menjadi Dah, Sa’ad menjadi Sa.[12] Seperti itu juga berlaku pada pakaian, sampai sekarang yang banyak dipakai orang Islam dinamakan baju koko berasal dari China bukan dari arab
  2. Gerakan keagamaan. Munculnya gerakan tasawuf/ sufi dan aliran sekte keagamaan. Adapun gerakan tasawuf yang berkembang adalah tarekat Qodiriyah, Naqsabandiyah, Jahariyah dan Khufiyah. Dan yang berkembang pesat adalah tarekat Naqsabandiyah di Xinjiang. Kebijakan-kebijakan saat itu sangat menguntungkan umat Islam, dan umat Islam pun loyal dengan idnasti Ming, ini dibuktikan pada masa pendudukan bangsa asing Manchu, umat Islam terus-menerus memimpin pemberontakan.[13]
  3. Dalam bidang pendidikan dan sains terjadi penerjemahan buku ilmu pasti dan astronomi dari bahasa arab ke China dan juga penerjemahan al-quran dalam bahasa china, setidaknya pada pemerintahan Zhung Xiang kaisar terakhir dinasti Ming.[14] Pendapat lain datang dari Tien Ying Ma, penterjemahan al-Quran kedalam bahasa China benar-benar telah selesai pada tahun 1927 oleh Mr. Lee Tiek Tsing.[15] Dalam bidang astronomi, berhasil membangun observatorium untuk mengamati peredaran bintang dan planet. Menurut Sachiko Murata, ada dua tokoh sufi yang sangat berperan dalam alam pikiran umat Islam China yaitu Wang Tai Yu dan Liu Chih. Karya utama Wang Tai Yu adalah Cheng Chiao Chen Ch’huan (tafsir hakiki tentang ajaran sejati), Ch’ing Chen Ta hsuan (Ajaran agung yang suci dan hakiki) dan His Chen Cheng Ta (Jawaban yang benar tentang kebenaran sejati.[16]
  4. Dinasti Ch’ing (1644 – 1912 M) bangsa Manchu
Pada masa ini tidak ada perkembangan yang berarti dan jusrtu ketertindasan dan pemberontakan, karena orang Islam ditekan dan dijadikan musuh dinasti Ch’ing, yang mana dinasti ini adalah orang asing yang menduduki China setelah dinasti ming berhasil dikalahkannya.[17]
  1. Era baru di China (Republik Tiongkok)
Sekarang ini, kaum komunis telah benar-benar menyempurnakan pengawasannya terhadap China Muslim, mereka telah menghapuskan waqaf yang telah diwariskan kepada mesjid-mesjid dan kelembagaan agama lainnya sepenjang zaman. Harta waqaf adalah sokoguru bagi praktek keagamaan di Tiongkok dan negara Islam lainnya. Islam sangat goncang akibat tindakan ini dan itu berpengaruh besar dalam tatanan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat Muslim di negeri itu. Mereka menggantikan huruf Arab pada masyarakat Sinkiang dan Kansu menjadi huruf Cyrilik. Orang tentu saja dapat membayangkan atas dua perkara yang menjadi objek komunis tersebut. Demikian pula dengan pajak untuk membiayai sekolah-sekolah muslim sama sekali telah dihapus oleh komunis ini, serta dalam bidang kehidupan sosial pun, kaum muslimin dipaksa hidup dalam satu kondisi di mana mereka tak dapat mengelakkan untuk memakan daging babi, yang telah berabad-abad lamanya ditinggalkan. Memang setelah 1975 pemerintah China mengukuhkan hak minoritas untuk mengembangkan kebudayaan mereka dalam framwork negara China. Warga muslim direhabilitasi sepenuhnya dan diijinkan kembali mendirikan sekolah, membuka restoran dan menyelenggarakan aktivitas agama, tetapi ini semua tetap terkekang karena pemerintah China menghendaki integrasi muslim ke administrasi lokal dan tetap memperdaya kekuatan muslim di China.[18]  Inilah sekilas kondisi Islam hari ini di negeri Tirai Bambu. Mengenai hal ini, ada sebuah artikel yang terbit pada tanggal 28 Desember 1956 dalam harian Kwangming, kesimpulan dari tulisan tersebut, artinya adalah:” kurangnya perhatian pemerintah terhadap Umat Islam yang ada di wilayah itu, dan penulis sendiri tidak sependapat dengan pandangan bahwa kaum komunis akan berhasil dalam usaha mereka untuk membinasakan Islam di Tiongkok”.[19]
  1. Tokoh yang terkenal dalam peradaban Muslim di China
  2. Zheng He (Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho, 1371 – 1435 M).
Misinya adalah mengunjungi berbagai negara di dunia, dan selalu meninggalkan pengikut untuk menyebarkan Islam pada daerah yang ia kunjungi, di aceh sempat memberikan kenangan berupa lonceng besar sebagai tanda persahabatan, termasuk Semarang dan Malaka yang ia berdakwah di sana. Anehnya orang non muslim China memuja-muja cheng ho yang merupakan seorang pendakwah yang luar biasa.[20]
  1. Wang Daiyu (1584-1670 M). Beliau telah menciptakan teori membela Islam dengan membedakan dengan budaya China. Beliau sangat mahir dalam bidang pengetahuan klasik China dan beliau telah menyebarkan inti ajaran Islam dalam masyarakat sekitar China. Pemikiran beliau telah banyak sekali mempengaruhi masyarakat Islam sepanjang sejarah. Adapaun karya-karya beliau di antaranya adalah: True Explanation on The Right Religion (Islam)High Learning in Qing Zhen (Islam).
  2. Yusuf Ma Zhu (1640-1711 M). Beliau dilahirkan di daerah Yunnan. Karya beliau yang paling terkenal adalah Direction in Islam yang berkaitan dengan sejarah Islam, falsafah dan undang-undang serta menitik beratkan bahwa Islam haruslah difahami dengan mengenali sifat-sifat Allah sebagai landasan utama ilmu pengetahuan. Beliau juga mencetuskan prinsip-prinsip Islam sebagai suatu yang amat penting dalam memperbaiki tatanan sosial yang berlandaskan keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat.
  3. Liu Zhi (1665-1745 M). Cendekiawan yang satu ini dilahirkan di Nanjing. Pengetahuannya yang mendalam telah memberi reputasi yang tinggi dalam masyarakat China Muslim. Hasil karya akademiknya yang terkemuka adalah Tian Fang Jian Li (Etika dalam Islam), karyanya ini merupakan satu-satunya karya yang telah dikumpulkan dalam ensiklopedi (Si Ku Quan shu) dan punya tingkatan rujukan yang tinggi pada zaman Dinasti Qing. Ia juga telah diakui oleh para cendekiawan China tradisional sebagai cendekiawan yang sangat membanggakan dalam rangka memahami perspektif Islam yang lebih mendalam.
  4. Yusuf Ma Dexin (1794-1874 M). Beliau sangat terkenal karena kefasihan dan kemahiran dalam berbahasa, khususnya bahasa Arab dan Parsi serta memiliki pengetahuan Islam yang sangat mendalam. Ia telah melakukan penerjemahan Al- Qur’an ke dalam bahasa Tionghoa dan juga menulis berbagai jenis buku mengenai Islam dalam bahasa Arab dan Parsi. Adapun karya-karya beliau di antaranya adalah: The True Revealed Scripture (merupakan sebagian dari kitab penerjemahan Al-Qur’an yang awal), Nahawu wa Saierfu (dalam teks-teks bahasa Arab), Universal Description, dan Huan Yu Shu Yao (mengenai maklumat kalender Islam dan lain sebagainya)
  5. Kelompok Muslim Hui dan Uighur
Dua kaum minoritas Islam utama di Republik Rakyat Cina adalah masyarakat Uighur dan Hui. Keduanya mengikuti Islam aliran Sunna, yang dipadu dengan beberapa aliran Sufi Asia Tengah. Orang Uighur merupakan sebuah suku-bangsa Turki yang aslinya datang dari daerah Gunung Altai, di utara Mongolia sebelah barat. Setelah memerintah Mongolia dari awal abad ke-8 sampai pertengahan abad ke-9 M, mereka pindah ke Turkistan Timur (Cin. Xinjiang ). Sejak itu mereka telah menjadi kelompok kesukuan yang terbesar di daerah itu dan mereka berbicara dalam bahasa Turki mereka sendiri. Akan tetapi, orang Uighur bukanlah masyarakat bersatu. Seperti di masa lampau, pengenal mereka utamanya adalah kota-kota oase yang mereka tempati. Istilah “Uighur” yang digunakan untuk mengacu pada mereka sebetulnya baru digunakan sejak akhir abad ke-19 untuk mempersatukan perlawanan mereka terhadap Wangsa Qing Manchu.[21]
Secara keseluruhan, masyarakat Uighur merupakan orang-orang berperangai lemah lembut dan santai. Mereka tidak melihat kerja sebagai suatu kebajikan sendiri dan mereka juga menghargai kenikmatan hidup. Tingkat pengetahuan dan laku Islam mereka terbilang rendah, dan gaya mesjid-mesjid dan adat-istiadat mereka Asia Tengah. Orang-orang yang tinggal di bagian tengah dan utara Xinjiang sekarang telah mengalami pen-Cina-an yang cukup kuat. Rata-rata, hanya orang-orang lanjut usia saja yang pergi ibadah ke mesjid-masjid, yang keadaannya tak terawat baik. Islam lebih kuat di antara orang Uighur di Xinjiang sebelah selatan tempat sejumlah kecil orang Han juga tinggal. Ibadah Islam di sana lebih tradisional dibanding di daerah yang mutlak ditinggali oleh orang Hui saja.[22]
Orang Hui berasal dari suku-suku bangsa yang beragam, utamanya Arab, Persia, Asia Tengah, dan Mongol. Mereka tinggal di seluruh wilayah Cina. Mereka aslinya datang sebagai pedagang dan prajurit wajib-militer. Gelombang kedatangan mereka dimulai sejak pertengahan abad ke-7. Pada pertengahan abad ke-14, mereka dipaksa untuk kawin-campur dengan orang Cina Han. Alhasil, mereka berbahasa Cina dan adat-istiadat dan mesjid-mesjid mereka semuanya bergaya Cina. Kaum minoritas Muslim Cina lainnya secara turun-temurun mengecam penyesuaian laku Islam yang dilakukan orang Hui dengan cara hidup orang Han.[23]
Secara umum, orang Hui tidak memiliki sikap santai gaya Asia Timur Tengah/Asia Tengah terhadap hidup. Dalam hal cita-cita yang berapi-api terhadap perdagangan dan uang, mereka sama dengan orang Cina. Seperti orang Tibet, mereka menenteng dan gesit sekali dalam memainkan pisau. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar.[24]
  1. Penutup
Umat Islam di China telah sangat lama dan mengakar, walaupun ketika China berubah menjadi negara komunis, Islam ditekan dengan sangat berat, tetap saja Islam tidak pernah punah sampai hari ini. Berbagai perkembangan peradaban juga bisa di raih umat Islam China sampai hari ini. Gerakan tasawuf dan ilmu pengetahuan juga berkembang, bahkan sampai penerjemahan berbagai ilmu pasti dan astronomi pun sudah dilakukan oleh umat muslim China, terlebih juga penerjemahan al-quran ke bahasa mereka.
Yang perlu diingat bahwa sejarah telah mencatat tidak ada satupun agama yang mampu dimusnahkan ataupun ditumpaskan oleh kekuatan senjata atau pengejaran manapun di dunia ini.
islamdichina3 (FILEminimizer)
DAFTAR PUSTAKA

Ali Ketani, M. 2005. Minoritas Muslim di Dunia Dewasa ini. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.

Berzin, Alexander. “Hubungan antara Muslim Hui, Orang Tibet, dan Uighur”, dalam http://studybuddhism.com/id/kajian-tingkat-lanjut/sejarah-dan-budaya/agama-buddha-dan-islam/hubungan-antara-muslim-hui-orang-tibet-dan-uighur.html diakses pada Senin 30 Mei 2016 pukul 06.07

Dunn, Ross E. 1995. Petualangan Ibnu Batutah seorang musafir muslim abad ke 14, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Khaldun, Ibnu. 1986. Muqoddimah Ibnu Khaldun. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Lampu Islam. “Sejarah Islam di China” dalam http://www.lampuislam.org/2015/06/ sejarah-islam-di-cina.html diakses pada Kamis, 31 maret 2016, Pukul 13.30

Lapidus, Ira M. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Murata, Sachiko. 2003. Gemerlap Cahaya Sufi dari China, Jakarta: Pustaka Sufi.

Rafik Khan, A. 1967. Islam di Tiongkok. Jakarta: Tinta mas.

Smith, Huston. 2000. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

Tien Ying Ma, Ibrahim. 1979.  Perkembangan Islam di Tiongkok. Jakarta: Bulan Bintang

Usman, A.Rani. 2003. Sejarah Peradaban Aceh. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wang Seng, Aan. 2007. Rahasia Kegemilangan Islam Di China. Selangor: LA Khauf Marketing.
[1] Huston Smith, Agama-Agama Manusia, (Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 2000), hlm. 231
[2] Lampu Islam, “Sejarah Islam di China,” http://www.lampuislam.org/2015/06/sejarah-islam-di-cina.html diakses tanggal 31 maret 2016
[3] Aan Wang Seng, Rahasia Kegemilangan Islam Di China, (Selangor: LA Khauf Marketing, 2007), hlm. 8
[4] Ibid
[5] Ibnu Khaldun, Muqoddimah Ibnu Khaldun, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), hlm. 571
[6] Ibrahim Tien Ying Ma, Perkembangan Islam di Tiongkok (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 24-25
[7] M. Ali Ketani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa ini, (Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2005), hlm. 123
[8]  Ibrahim Tien Yang Ma, Perkembangan ..., hlm. 30
[9] A rafik khan, Islam di Tiongkok, (Jakarta: Tinta mas, 1967), hlm. 07
[10] Ibid, hlm. 09
[11] Ross E Dunn, Petualangan Ibnu Batutah seorang musafir muslim abad ke 14, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), hlm. 390
[12] Ying Ma, Perkembangan Islam di Tiongkok, hlm. 32
[13] Ying Ma, Perkembangan Islam di Tiongkok, hlm. 165.
[14] Khan, Islam di Tiongkok, hlm. 32
[15] Ying Ma, Perkembangan Islam ..., hlm 336
[16] Sachiko Murata, Gemerlap Cahaya Sufi dari China, (Jakarta: Pustaka Sufi, 2003), hlm. 69
[17] Ying Ma, Perkembangan Islam ..., hlm 164
[18] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 419
[19] A Rafik Khan, Islam ...., hlm. 110
[20] A.Rani Usman, Sejarah Peradaban Aceh (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 89
[21] Alexander Berzin, “Hubungan antara Muslim Hui, Orang Tibet, dan Uighur”, dalam http://studybuddhism.com/id/kajian-tingkat-lanjut/sejarah-dan-budaya/agama-buddha-dan-islam/hubungan-antara-muslim-hui-orang-tibet-dan-uighur.html diakses tanggal 30 Mei 2016 pukul 06.07
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Ibid.

Tata Cara Sholat Dhuha dan Bacaan Sholat Dhuha

09.42.00

Niat shalat dhuha

Berdasarkan kesepakatan para Ahli Fiqih ( ittifaq Fuqoha' ), letak niat ada di dalam hati ( wajibnya ). Dan menurut Jumhur Fuqoha' ( mayoritas Ahli Fiqih ) kecuali Maliki, bahwa " pengucapan" niat dengan lisan hukumnya sunnah, hal ini karena membantu hati dalam merealisasikan niat tersebut. Agar pengucapan dan pelafalan itu membantu " daya ingat", sedangkan Maliki tidak memandangnya sunnah karena tidak manqul dari Nabi saw. (Sumber : mudarosahkajianfiqih.blogspot.com)



Tata Cara Sholat Dhuha


Tata cara sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah pada umumnya, berikut cara shalat duha yang benar .
1.       Setelah membaca niat sholat dhuha didalam hati seperti yang telah tertulis diatas kemudian membaca takbir,
2.       Membaca doa Iftitah
3.       Membaca surat al Fatihah
4.       Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam  dan rakaat kedua surat Al Lail  
5.       Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
6.       I’tidal dan membaca bacaannya
7.       Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
8.       Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
9.       Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas 

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha


Jumlah minimal rakaat Shalat Dhuha adalah dua rakaat, sebagaimana hadits Abu Hurairah di depan. Bisa juga mengerjakan empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, atau duabelas rakaat, atau tanpa batasan, karena semuanya memiliki pijakan dari sunnah Rasulullah . (Shalatul Mukmin: 1/449, Syarh Riyadhus Shalihin, Al-Utsaimin:

Dalil Shalat Dhuha empat rakaat hingga tanpa batasan  adalah hadits Aisyah s,



عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Dari Aisyah s beliau berkata, “Rasulullah n shalat Dhuha empat rakaat dan menambahnya sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Muslim)




Bacaan Doa sesudah Shalat Dhuha


اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ




ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

Arti bacaan doa sholat dhuha :
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.


Keutamaan dan Keistimewaan shalat Dhuha


Ada banyak Hadits Rasulullah saw yang membahas tentang keutamaan shalat Dhuha, beberapa di antaranya:
1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia
Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda:
"Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala" (HR Muslim).

2. Ghanimah (keuntungan) yang besar

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:"Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: "Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; "Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; "Ya! Rasul berkata lagi: "Barangsiapa yang berwudhu', kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya." (Shahih al-Targhib: 666)

3. Sebuah rumah di surga

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw:
"Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surge." (Shahih al-Jami`: 634)

4. Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda' ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata:"Allah ta`ala berkata: "Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya" (Shahih al-Jami: 4339).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: "Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi'arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika" ("Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: "Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu").

5. Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:"Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah....(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna" (Shahih al-Jami`: 6346).

6. Ampunan Dosa "Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan." (HR Tirmidzi)




Akhlakmu, Tak Jauh dari Perilaku Temanmu

10.26.00

SEMUA orang kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba muncul berita sembilan orang tewas seketika setelah ditabrak oleh sebuah mobil sarat penumpang di Jakarta beberapa waktu lalu. Padahal sembilan orang itu sejatinya sudah berada di jalurnya alias trotoar.  

Setelah diselidiki ternyata sang pengemudi baru saja mengkonsumsi narkoba dan minuman keras (miras). Pengaruh narkoba menjadikannya tak mampu mengemudikan kendaraannya dengan baik, sehingga akibat narkoba itu sembilan nyawa melayang sia-sia. Kini sang pengemudi sedang mendekam dalam bui untuk mempertanggung-jawabkan kecerobohannya. Inilah peristiwa yang terjadi pada Afriyani atau dikenal “
peristiwa Xenia maut” yang menewaskan 9 orang yang terjadi  bulan Januari 2012 lalu
Akhlakmu, Tak Jauh dari Perilaku Temanmu

Akhlakmu, Tak Jauh dari Perilaku Temanmu

17.54.00
Akhlakmu, Tak Jauh dari Perilaku Temanmu



SEMUA orang kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba muncul berita sembilan orang tewas seketika setelah ditabrak oleh sebuah mobil sarat penumpang di Jakarta beberapa waktu lalu. Padahal sembilan orang itu sejatinya sudah berada di jalurnya alias trotoar. 

Setelah diselidiki ternyata sang pengemudi baru saja mengkonsumsi narkoba dan minuman keras (miras). Pengaruh narkoba menjadikannya tak mampu mengemudikan kendaraannya dengan baik, sehingga akibat narkoba itu sembilan nyawa melayang sia-sia. Kini sang pengemudi sedang mendekam dalam bui untuk mempertanggung-jawabkan kecerobohannya. Inilah peristiwa yang terjadi pada Afriyani atau dikenal “peristiwa Xenia maut” yang menewaskan 9 orang yang terjadi  bulan Januari 2012 lalu.

Agama Temamu

Kasus ini layak untuk dijadikan pelajaran bagi semua umat Islam. Jangan sampai ada di antara keluarga kita --apalagi itu adalah putra-putri kita-- yang ikut-ikutan menjadi pengguna narkoba. Upaya deteksi dini dan pencegahan harus dilakukan secara serius dan terus-menerus. Sebab jika sudah kejadian, maka hilanglah harapan untuk masa depan yang bahagia.

Kasus “Xenia maut” menunjukkan bahwa di negeri ini pergaulan bebas kian tak terkendali. Kita sering alpa hingga lupa siapa teman dan oranng terdekat dari anak-anak kita.
   
Melihat situasi kekinian yang kian tidak menentu, utamanya soal akhlak dan keimanan nampaknya petuah dari orangtua kita zaman dulu yang dinyanyikan Emha Ainun Najib dan Opick dalam lyrix “Tombo Ati” adalah “Wong kang sholeh kumpulono” (berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, red).

Petuah ini mengajarkan kepada kita semua,  bahwa untuk menjadi baik, kita harus berkumpul dengan orang-orang yang baik pula (sholeh). Karena akibat kebaikannya itu, secara tidak langsung akan mengajarkan sifat terpuji lainnya kepada kita.

Dengan kata lain, kalau kita ingin hati kita sehat (terbebas dari penyakit dan dosa) maka hindarilah bergaul dengan orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. 

Pepatah Arab menyatakan, “anli mar'i la tas'al, was’al an qoriinihi fainna qoriina bil muqorini yaqtadi.” (Jika ingin tahu seseorang, jangan Tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya).
Terjemahan bebasnya adalah, setiap teman meniru temannya. Bila kita berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka. Dan janganlah berteman dengan orang yang rendah(hina), niscaya kita akan hina bersama orang yang hina. 

Lebih dari itu Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menegaskan dalam sabdanya bahwa:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad).

Abud Darda’ berkata, di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya. Sebab teman itu boleh dikatakan adalah teman akrab. Teman yang dalam perjalanan hidup nanti akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, watak, perilaku, dan kebiasaan. Jika teman kita baik, insya Allah kita akan terkondisikan ikut baik dan sebaliknya.
Beberapa kasus terbaru yang terjadi di negeri ini cukup menjadi bukti bahwa teman yang buruk perangainya akan menjerumuskan teman dekatnya pada kebinasaan. Bayangkan saja, di usia produktif disaat seorang pemuda harusnya menata diri untuk berprestasi di masa depan, harus mendekam dalam bui. Lihat saja pengemudi penabrak sembilan pejalan kaki, ia tak sendirian, ia bersama teman-temannya.

Pertanyaannya kemudian apakah haram berteman dengan orang yang jahat?
Sejauh ada kemampuan untuk menghadapi mereka dan bisa memastikan tidak ikut kejahatannya tidak masalah.  Karena setiap umat Islam diperintahkan berdakwah terhadap mereka. Tetapi jika tidak punya kemampuan, sebaiknya perkuat dulu diri sendiri, baru orang lain. Sebab kalau kalah, maka kita yang akan terwarnai (terjerumus). Masalahnya, apakah kita yakin memiliki kemampuan pertahanan itu?

Selagi masih di dunia mari kita tingkatkan keselektifan kita dalam bergaul, utamanya pergaulan putra-putri kita. Jangan sampai mereka salah memilih teman lalu terjerumus dalam pergaulan yang negatif. Sebab bukan saja di dunia dampak buruk yang akan diterima, tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu bertemanlah dengan orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya, bukan yang lain.

Jangan sampai kita mengalami apa yang Allah ilustrasikan dalam ayat Al-Qur’an;

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُول

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS.25: 27 – 29).

Bahkan dalam al-Quran dikatakan, pada hari kiamat itu orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling mempersalahkan.

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa berkata:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti (berteman) dengan pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Dan adapun (berteman) dengan pembawa minyak wangi kemungkinan dia akan memberimu, kemungkinan engkau membelinya, atau kemungkinan engkau mencium bau yang harum. Dan (berteman) dengan tukang pandai besi kemungkinan dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak enak.”
Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bari (4/324) menjelaskan: “Di dalam hadits ini terdapat larangan berteman dengan seseorang yang akan merusak agama dan dunia. Hadits ini juga mengandung anjuran agar seseorang berteman dengan orang yang akan bermanfaat bagi agama dan dunianya. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.*
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

09.16.00
khutbah jumat amar makruf nahi mungkar


Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

KHUTBAH JUM’AT PERTAMA
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ, أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ, وَأَسْأَلُهُ الْمَغْفِرَةَ يَوْمَ الدِّيْنِ.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَامَحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِاالْهُدَى وَالنُّوْرِالْمُبِيْنِ,صَلَّى اللهُ وَ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
قال تعالى: كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Di hari yang penuh berkah ini, mari kita menghadapkan hati kita kepada Allah, membuka hati dan pikiran untuk sejenak menyimak nasihat khutbah yang kami harapkan dapat menambahkan ketakwaan kita kepada Allah.
Ma’asyiral muslimin jamaah salat Jumat rahimakumullah
Jika kita perhatikan dan kita amati secara sepintas saja, apa yang terjadi saat ini di tengah masyarakat muslimin, kita akan mendapatkan fenomena yang seharusnya menjadikan kita semua prihatin akan umat ini. Perhatian ini menjadikan kita mawas diri dan berusaha menjadikan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita tidak termasuk golongan mereka yang telah melampaui batas.
Sekian banyak bentuk kesyirikan, kezaliman, kejahatan, kemaksiatan yang dengan begitu mudah kita temukan di sekitar kita. Contohnya praktik kesyirikan sudah menjadi suatu yang biasa dilakukan orang. Bahkan dukun, para normal, tukang ramal, ahli zodiak, dan orang-orang semacam mereka, yang jelas-jelas melakukan praktik kesyirikan, dianggap sebagai tokoh panutan dan memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat. Contoh lain di antara kaum muslimin sudah tidak bisa lagi menghargai nyawa seseorang, tidak bisa menghargai harta orang lain, dan bahkan tidak bisa menghargai kehormatan manusia. Padahal itu semua telah dilindungi oleh Islam, dan tidak boleh diganggu. Semua itu terjadi karena mereka telah meninggalkan Agama yang hanif ini, menuruti hawa nafsu, terpedaya dan tertipu oleh bujuk rayu setan serta gemerlapnya kehidupan dunia.
Di sisi lain, di antara kaum muslimin tidak lagi memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap saudaranya sesama muslim, tidak peduli dengan kejadian dan kondisi yang ada, sehingga segala bentuk kemungkaran semakin hari tumbuh subur, dan sebaliknya segala bentuk kebaikan mulai terkikis dan asing di hadapan manusia. Orang-orang yang ingin selalu konsisten dan istiqamah menjalankan agama dengan benar menjadi asing di tengah masyarakatnya. Sikap keislaman yang baik terkesan batil dan begitu juga sebaliknya. Yang sunah dan sesuai dengan contoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallamdianggap sebagai sikap beragama yang ekstrim, dan sebaliknya yang bid’ah dianggap sebagai jalan kebenaran sejati.
Semua itu adalah karena yang menjadi tolok ukur beragama adalah perasaan dan keridhaan manusia, bukan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita semua dari sikap timpang semacam ini dalam sabda beliau,
مَنِ الْتَمَسَ رِضَا الله بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ الله مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ الله وَكَلَهُ الله إِلَى النَّاسِ.
Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (mengacuhkan) kebencian manusia maka Allah mencukupkannya dari beban manusia, dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan (mengesampingkan) kemurkaan Allah maka Allah akan menguasakan manusia atas dirinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2414 dan dishahihkan oleh al-Albani).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Sebegitu hebat kemungkaran yang telah dianggap biasa di tengah masyarakat kita, sampai yang baik menjadi suatu yan dianggap aneh. Orang yang rajin salat berjamaah aneh, kaum muslimah yang mengenakan hijab sesuai syariat aneh, rajin ke tempat-tempat pengajian aneh, laki-laki muslim yang memotong pakaiannya agar tidak isbal aneh, dan semua yang sebenarnya adalah tepat sebagaimana yang diridhai Allah Subahanahu wa Ta’ala, menjadi suatu yang aneh dan asing. Maka sungguh benar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam manakala beliau bersabda,
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ، الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِيْ مِنْ سُنَّتِيْ .
Islam mulanya dianggap aneh (asing) dan akan kembali dianggap asing seperti semula. Maka kabar gembira yang besar bagi orang-orang yang dianggap aneh (asing), yaitu, orang-orang yang memperbaiki (menjalankan dengan baik) perkara-perkara sunahku yang telah dirusak orang-orang setelahku.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Karenanya, merupakan tugas dan kewajiban setiap muslim untuk selalu menjaga kemurnian agama, dengan senantiasa menegakkan kebenaran dan mencegah setiap bentuk kemungkaran. Tentunya kita pernah membaca dan mendengar permisalan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau bersabda,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ الله وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا؛ فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعًا.
Perumpamaan orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya, adalah seperti sekelompok orang yang berada di dalam sebuah kapal, ada yang mendapatkan tempat di atas melewati orang-orang yang di atas, dan ada yang memperoleh tempat di bawah. Seadng yang di bawah jika mereka berkata, ‘Lebih baik kita melobangi tempat di bagian kita ini (bagian bawah), supaya tidak mengganggu kawan-kawan kita yang di atas.’ Rasulullah bersabda, ‘Maka jika mereka yang di atas membiarkan orang yang di bawah (melakukan hal itu), pasti binasalah semua orang yang ada di dalam perahu tersebut, namun apabila mereka mencegahnya mereka semua akan selamat’.” (HR. Al-Bukhari no. 2493).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Jika kita renungkan dengan dalam perumpamaan agung yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, yaitu seorang hamba Allah yang paling mengetahui tentang keadaan umatnya, tentang sebab-sebab kemuliaan dan kerusakan yang akan terjadi pada mereka berdasarkan wahyu dari AllahSubhanahu wa Ta’ala, maka kita akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang agungnya keutamaan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jahat dan mungkar, yang kita kenal dalam istilah amar ma’ruf nahi munkar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلآَأَوْلاَدُهُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا وَأُوْلاَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia, karena menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Al-Allamah As-Sa’di mengomentari ayat ini dengan mengatakan, “Allah memuji umat ini sebagai umat yang paling baik yang Allah ciptakan untuk umat manusia. Hal itu dikarenakan Allah menyempurnakan Iman bagi diri mereka, yang dengan iman itu mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah, dan menyempurnakan mereka untuk orang lain dengan amar ma’ruf dan nahi munkar, yang mencakup mendakwahi manusia untuk kembali kepada Allah. Dengan inilah maka umat Islam ini adalah umat terbaik.” Dan sebaliknya Allah melaknat orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab, karena mereka membiarkan kemungkaran terjadi di tengah mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِى إِسْرَاءِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ {78} كَانُوا لاَيَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Telah dilaknat orang-orang kafir dari bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama ain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selali mereka perbuat itu.” (Al-Ma’idah: 78-79)
Ini menunjukkan bahwa membiarkan kemungkaran dan kemaksiatan adalah salah satu sifat orang-orang yang dilaknat Allah.
Al-Allamah As-Sa’di berkata, setelah menafsirkan ayat ini,
“Hal itu (perbuatan mereka yang diam terhadap kemungkaran) menunjukkan sikap meremehkan perintah Allah dan bahwasanya berbuat maksiat kepada-Nya adalah suatu yang ringan bagi mereka. Seandainya mereka memiliki rasa pengagungan kepada Rab mereka, niscaya mereka tidak akan menabrak hal-hal yang diharamkan Allah, dan niscaya mereka tidak akan menyukai terhadap sesuatu yang diharamkan Alah. Dan sesungguhnya diam terhadap kemungkaran –padahal mampu untuk merubahnya- adalah sikap yang mendatangkan hukuman; karena mendiamkan kemungkaran akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang besar:
Di antaranya, hal itu menunjukkan sikap meremehkan dan menganggap enteng kemaksiatan. Demikian juga hal itu akan menumbukan keberanian bagi orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan orang-orang fasik untuk semakin berani melakukan maksiat, bahkan secara terang-terangan.
Apabila kemungkaran dibiarkan, maka ilmu Agama akan semakin redup di tengah masyarakat dan kejahilan justru akan semakin merajalela, karena apabila kemaksiatan demi kemaksiatan begitu saja dilakukan orang, dan dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk merubahnya, maka masyarakat yang memang minim dengan ilmu agama akan menganggap itu semua sebagai suatu yang bukan maksiat.
Mendiamkan maksiat boleh jadi akan menyebabkan kemaksiatan menjadi suatu yang bagus dalam pandangan masyarakat luas, sehingga sebagian masyarakat akan meniru perbuatan pelaku maksiat karena menganggapnya sebagai sesuatu yang bagus.” (Dikutip dari Tafsir as-Sa’di secara ringkas dan adaptasi, Ali Imran: 78-79).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi munkar adalah kewaijban setiap muslim yang paling utama, yang akan menjadi jalan keselamatan dan menghindarkan dari murka Allah, di dunia maupun di akhirat. amar ma’ruf nahi munkar harus tegak, dalam segala tataran masyarakat, baik sosial, individu, keluarga, masyarakat, nasional bahkan internasional. Kita harus senantiasa ingat bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah Allah, yang mana Allah menjanjikan keberuntungan bagi kita bila menegakkannya. Perhatikan Firman-Nya berikut ini,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104)
Lebih dari itu, amar m’aruf nahi munkar adalah salah satu di antara sifat-sifat asasi seorang mukmin sejati, dan karenanya Allah menjanjikan rahmat bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ
Dan orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah sesungguhnya Allah Maha Perkasa  lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا الله مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ
KHUTBAH JUM’AT KEDUA
الْحَمْدُ ِللهِ وَكَفَى,وَسَلَّمَ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْ اصْطَفَى,أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ فِيْ اْلأَخِرَةِ وَاْلأُوْلَى ,وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًاكَثِيْرًا
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Kepedulian kita untuk merubah kemungkaran, adalah salah satu di antara barometer keimanan kita. Coba kita simak dengan baik sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,
Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ الله فِي أُمَّةٍ قَبْلِيْ إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَا لَا يَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ مَا لَا يُؤْمَرُوْنَ؛ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ،ِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلك مِنَ الْإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.
Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah sebelumku, melainkan dia memiliki para pembela yang setia dan sahabat-sahabat yang mengikuti sunahnya dan mengikuti perintahnya, kemudian setelah itu datanglah orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat, dan justru melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, aka dia adalah seorang Mukmin, barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia juga seorang mukmin, dan barangispa yang memerangi mereka dengna hatinya, maka dia juga seorang Mukmin, dan tidak ada iman yang lebih rendah dari itu meskipun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 50)
Kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan bashirah, kekuatan hati, kekuatan ilmu, kekuatan lisan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kemungkaran dan kebatilan. Dengan harapan semoga Allah menggolongkan kita sebagai mukmin sejati, melimpahkan rahmat bagi kita, dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيْ, يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَىمُحَمَّدٍ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَ آخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Download Naskah Khutbah Jumat